7 Tanda Anda Terlalu Baik hingga Mengorbankan Diri Sendiri, Kata Psikolog

Apakah kamu salah satu orang yang selalu siap untuk menolong siapa pun, kapanpun, terlebih ketika keadaanmu tengah kurang baik?

Bila demikian, bisa jadi Anda terlalu baik hati dan memiliki rasa simpati yang berlebihan. Faktanya hal tersebut belum tentu menguntungkan, khususnya bila membuat Anda merasa letih secara emosi.

Di tengah lingkungan yang keras dan menantang ini, memiliki sifat baik serta empati sungguh amat diperlukan. Namun apa jadinya bila sikap tersebut malah membawa dampak negatif pada diri sendiri?

Berikut ini 7 indikasi psikologis yang menunjukkan bahwa Anda mungkin terlalu baik hati dan memiliki rasa empati yang kuat sehingga sering melupakan kebutuhan untuk merawat diri sendiri, sesuai kutipan dari situs web Geediting.com pada hari Jumat, 18 April 2024.

1. Anda Selalu Mengalami Kelelahan Berkepanjangan, Meskipun Sudah Cukup Istirahat

Apabila Anda kerap kali mengalami kekurangan tenaga - meskipun sudah mendapatkan istirahat yang cukup - mungkin hal tersebut tidak disebabkan oleh tubuh Anda yang letih, tetapi justru karena hati Anda yang telah terlalu berisi.

Menjadi seseorang yang sangat peka seringkali berarti Anda menerima energi negatif dari lingkungan sekeliling. Sama seperti spons yang meresapkan air, Anda juga mengambil emosi orang lain.

Hal ini dikenal sebagai kelelahan empatetik, dan kerap dialami oleh mereka yang secara berulang kali menyerahkan perasaannya kepada oranglain.

Catatan Psikologi: Di bidang psikologi, hal tersebut dapat menuju kepada keletihan emosi yang jika dibiarkan dalam waktu lama mungkin akan menimbulkan kondisi burnout, stres persisten, atau bahkan depresi.

2. Anda Kesulitan Berkata "Tidak", Meski Hatinya Ingin Menolak

Apakah Anda terkadang menjawab "iya" hanya untuk menghindari ketidaknyamanan, meskipun sebetulnya Anda tak berniat melakukan itu?

Sulit mengucapkan kata "tidak" merupakan karakteristik seseorang dengan rasa empati yang tinggi. Lebih banyak ketakutan untuk menyusahkan atau menduakan orang lain dibandingkan melukai diri sendiri.

Padahal, seperti kata psikolog BrenĂ© Brown, “Berani menetapkan batasan berarti mencintai diri sendiri.” Anda tidak harus menyenangkan semua orang, apalagi sampai mengorbankan kebahagiaan pribadi Anda.

Tips praktis: Belajar berkata "tidak" tanpa rasa bersalah adalah bentuk perawatan diri yang sehat.

3. Anda Merasa Bertanggung Jawab Atas Perasaan Orang Lain

Contoh paling nyata: Teman Anda sedih, dan Anda ikut stres. Orang tua Anda kecewa, Anda merasa bersalah. Teman kerja gagal, Anda ikut merasa gagal.

Apabila hal ini kerap berlangsung, waspadalah. Hal tersebut merupakan bebannya emosi yang seharusnya tak Anda tanggung.

Berdasarkan ilmu psikologi: Empati yang baik artinya mengerti emosi oranglain tanpa perlu merasa bertanggung jawab atas emosi tersebut.

Kamu dapat menunjukkan kepedulianmu tanpa harus merasa bersalah tentang pengalaman mereka.

4. Anda Sering Dikorbankan Tetapi Jarang Melawan

Inilah salah satu tanda sakit hati terbesar: Anda telah berkorban semua, tetapi tak mendapatkan imbalan sepadan.

Misalnya, meminjamkan uang tapi tidak dibayar. Selalu jadi tempat curhat, tapi tak pernah ditanya “kamu gimana?”

Penelitian dari Universitas Notre Dame menemukan bahwa orang yang terlalu baik lebih sering merasa dimanfaatkan dan tidak dihargai.

Bukan disebabkan oleh kelemahan mereka, tetapi justru karena mereka terlampau ketakutan untuk membatasi.

Perhatian: Jangan biarkan kebaikanmu dimanfaatkan oleh orang lain untuk mendapatkan keuntungan.

5. Anda Kerap Mengabaikan Kepentingan Pribadi

Sudahkah kamu bertanya kepada dirimu sendiri?

Ketika terakhir kali Anda menikmati makan tanpa gangguan?

Kapan terakhir kali Anda tidur tanpa dibangunkan telepon atau chat dari orang lain?

Ketika terakhir kalinya Anda melakukannya semata-mata demi kebahagiaan diri sendiri?

Kalau Anda sulit menjawabnya, mungkin Anda terlalu fokus merawat orang lain, sampai lupa merawat diri sendiri.

Catatan penting: Mengabaikan kebutuhan pribadi bukanlah bentuk pengorbanan mulia. Itu bisa menjadi awal dari kehancuran mental.

6. Anda Tak Pernah Mau Dibantu, Padahal Sebenarnya Butuh

Ironisnya, orang yang paling sering membantu biasanya juga yang paling sulit menerima bantuan.

Anda terbiasa memberi, sehingga merasa canggung ketika harus menerima. Bahkan merasa bersalah.

Tapi percayalah: Tidak ada yang salah dengan menerima uluran tangan. Itu bukan kelemahan, tapi tanda bahwa Anda juga manusia.

Menurut Carl Rogers (seorang psikolog), "Justru ketika aku menerima keadaan diriku sebagaimana adanya, di sinilah perubahan dapat terjadi."

7. Rasa Bersalah Timbul Ketika Memfokuskan pada Diri Sendiri

Membaca buku sendiri kelihatan seperti suatu tindakan yang seringkali membuat diri merasa egois. Sedangkan beristirahat pada hari Minggu tanpa menanggapi pesan dari tempat kerja rasanya tidak pantas.

Jika Anda merasakan hal demikian, mungkin sudah waktunya untuk memperbaiki pola pikir. Menyatukan prioritas pribadi tidak berarti meninggalkan kebutuhan oranglain.

Justru sebaliknya, dengan menjaga kesehatan diri sendiri, Anda dapat memberikan kehadiran yang penuh kepada orang lain tanpa merasa habis tenaganya.

Saran mudah: Sediakan waktu antara 15-30 menit sehari untuk kegiatan pribadi yang Anda sukai. Apa pun itu. Tanpa merasa bersalah.

Empati serta kedermawanan merupakan kualitas yang amat berharga. Bumi ini membutuhkan semakin banyak individu sebagaimana diri Anda.

Tetapi, ketika kebaikan itu tanpa pengendalian dapat berubah menjadi racun untuk kesehatan mental dan fisik Anda.

Perhatikan: Kamu memiliki hak untuk mengistirahatkan diri. Kamu boleh menolak sesuatu. Kamu pantas merasa senang tanpa perlu selalu membuat orang lain gembira.

Jangan hanya menjadi baik untuk orang lain. Jadilah juga baik bagi diri sendiri.***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

7 Strategi Jitu Mengatasi Orang yang Sombong dengan Elegan, Berdasarkan Ilmu Psikologi

Jika Wanita Suka dengan Anda: Ciri-Ciri Halus yang Akan Mereka Tunjukkan Berdasarkan Psikologi

7 Tanda Seseorang yang Selalu Mencari Puji-Puji Hanya untuk Perbuatan Kecil